Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kulon Progo bersama dengan Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak, menanggapi wawancara studi perihal "Beras Fortifikasi" dengan tim Sakanti Consulting melalui Zoom Meeting pada hari Senin (15/3) di Ruang Rapat Suroloyo Bappeda Kulon Progo. Sakanti Consulting merupakan organisasi yang bergerak di bidang penelitian gizi dan kesehatan masyarakat, bekerja sama dengan The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Internasional, yang saat ini sedang melakukan studi tentang Iodisasi garam dan Fortifikasi beras di Indonesia yang berjudul Overview On Salt Iodization and Rice Fortification in Indonesia.
Studi tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif terhadap kondisi dan implementasi Iodisasi garam dan Fortifikasi beras di Indonesia. Berkaitan dengan studi tersebut, Kabupaten Kulon Progo diminta menjadi narasumber terkait kebijakan, program/kegiatan perihal Beras Fortifikasi (Inpari Nutri Zinc) dan program BPNT yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Wawancara ini dimoderatori oleh tim Sakanti Consulting.
Pada wawancara ini disampaikan oleh Cicilia Susy Setyo Cahyani, S.T., M.Eng selaku perwakilan dari Bappeda, bahwa beras Nutri Zinc ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan Kulon Progo dalam upaya penanganan stunting dimana terdapat 10 Desa/Kalurahan penanganan stunting di Kulon Progo, data disesuaikan dengan data DTKS dan ibu hamil. Ditambahkan oleh Ir. Trenggono selaku perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan, untuk pengembangan dan distribusi beras Nutri Zinc hingga saat ini telah sampai di pengembangan tahap III, dimana pada tahap III saat ini sudah diproduksi 1.950 ton gabah atau 1.230 ton beras. Kedepannya seiring peningkatan hasil produksi beras, nantinya beras Nutri Zinc ini tidak hanya disalurkan di 10 desa penanganan stunting, namun bisa diterima juga oleh semua penerima bansos baik bansos APBD maupun APBN.